Facebook

  Jeritan Paru-paru Dunia dan Tak Terselesaikannya Atribut Gelaran Pemilu Oleh Ahmad Khoirun Ni'am Tak kurang dari setahun lagi, pes...

 
Jeritan Paru-paru Dunia
dan Tak Terselesaikannya Atribut Gelaran Pemilu
Oleh Ahmad Khoirun Ni'am


Tak kurang dari setahun lagi, pesta akbar demokrasi di Indonesia akan digelar. Mulai dari pemilihan orang nomor satu negara, hingga pemilihan wakil-wakil rakyat di beberapa daerah. Pesta demokrasi kali ini memang terasa lebih spesial. Pasalnya, mulai dari Presiden dan Wakilnya, kemudian Gubernur di beberapa daerah, serta Bupati-bupati di banyak kabupaten akan dilaksanakan pada tahun 2019 nanti.

Di Kabupaten Kudus sendiri, pada pesta kali ini akan diikuti oleh lima pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati. Dan lebih spesialnya lagi, ada dua paslon (pasangan calon) yang mengusung diri sebagai paslon independen. Sedang sisanya (tiga) adalah paslon yang diusung oleh partai politik.

Namun perlu untuk diperhatikan. Pada setiap gelaran pesta demokrasi seperti sekarang ini, tidak hanya masalah mengenai calon Bupati dan Wakil Bupati saja yang harus kita cermati. Karena selalu ada masalah lain yang akan menanti kita di akhir pemilihan wakil rakyat tersebut. Yaitu atribut kampanye yang dapat dipastikan  tak terselesaikan. Baik oleh pihak penyelenggara pemilu, ataupun oleh paslon yang melakukan kampanye itu sendiri.

Di sini, perlu kita menyoroti dua pokok permasalahan utamanya. Yaitu antara atribut pemilu yang beruba pamflet-pamflet, dan pohon-pohon di sepanjang jalan baik desa ataupun kota yang merupakan paru-paru kota, bahkan duni dan menjadi tempat pemasangan pamflet tersebut. Pada satu sisi, pamflet merupakan atribut atau senjata paling ampuh bagi sebuah paslon untuk menggemakan promosi kepada masyarakat. Mengapa? Alasan utamanya adalah biaya yang dirasa lebih murah daripada alat promosi lain, selain itu juga juga masalah tahan lamanya.

Dapat kita lihat, di sepanjang jalan mulai dari desa Panjang hingga daerah Gondangmanis saja. Banyak sekali pamflet yang dapat kita temukan terpaku di pohon-pohon. Lebih dari dua ratus pamflet terpampang menghiasi perjalanan kita di ruas jalan tersebut. Apabila kita tilik dari segi kebermanfaatan. Tentu ada manfaat, namun hanya untuk pihak -pihak tertentu. Dan untuk kerugian yang diakibatkan? Dapat kita lihat sendiri. Akibat dari pemasangan-pemasangan pamflet tersebut, terlebih lagi dengan cara pemasangannya yang menggunakan paku. Ini akan mengakibatkan efek domino pada kemudian hari.

Perlu kita ketahui, bahwa pohon adalah paru-paru dunia. Inti dari kehidupan. Sebab apa? Hal ini dikarenakan pohon adalah sumber oksigen bagi manusia. Lewat proses fotosintesisnya, yang kemudian menghasilkan bahan utama bagi manusia untuk bernapas. Masalahnya, apabila pohon-pohon yang menjadi peran vital bagi manusia untuk hidup ini dirusak. Dengan digunakan sebagai tempat pemasangan pamflet-pamflet yang cara memasangnya sendiri dengan dipaku. Ini akan berakibat pada kerusakan pohon itu sendiri. Mungkin jika pohon bisa menangis. Pohon-pohon yang dipaku kala itu akan menangis sekeras-kerasnya.

Dapat kita bayangkan sendiri, jika satu pohon rusak atau mungkin mati ketika dipasangi pamflet. Maka berapa pohon yang akan mati tatkala musim kampanye seperti saat ini. Mungkin semua pohon yang ada di kota Kudus akan meradang. Maka dari itu, kita sebagai generasi muda dan modern harusnya lebih bijak dalam melakukan sesuatu. Sebagai paslon pemimpin yang akan memegang kendali atas sebuah daerah. Seharusnya kita lebih paham mengenai gerakan mencintai lingkungan dan menyelamatkan dunia. Karena, warisan untuk kehidupan berikutnya adalah kedamaian dan kehidupan yang lebih baik dari hari ini. Bukan esok yang suram karena keserakahan saat ini, yang semata hanya untuk mendapatkan kekuasaan di dunia. Mari wariskan kehidupan yang lebih layak untuk generasi yang akan datang.