- TEKS ANEKDOT -
A. Pengertian Teks Anekdot
Apa itu Teks Anekdot?Pertama pengertian anekdot secara umumnya dulu. Pengertian teks anekdot secara umum :
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian Teks Anekdot adalah adalah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya berkisar pada orang-orang penting dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya.
Menurut Kemenbud (2003:111) pengertian Teks Anekdot adalah sebuah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya.
Tentunya kalian pernah membaca sebuah cerita singkat yang berisi tentang guyonan atau berbau humor namun menjurus kepada sebuah kritik bukan? Nah, cerita singkat tersebut ialah teks anekdot.
Tidak hanya berbentuk cerita, pengertian teks anekdot juga dapat berbentuk dialog singkat antara dua tokoh.
Teks anekdot sendiri tentunya selain untuk memberi humor, teks tersebut juga harus memuat amanat, pesan moral ataupun kebenaran secara umum. Nah itu pengertian teks cerita anekdot.
B. Struktur teks anekdot
Sebuah teks dengan bentuk anekdot juga memiliki struktur yang berbeda. Fungsi dari adanya struktur teks anekdot ialah: untuk membuat teks menjadi lebih rapi dan sesuai, juga benar-benar berbentuk.Struktur tersebut ada lima macam dan wajib dimasukan dalam sebuah teks dengan bentuk anekdot.
Unsur-unsurnya antara lain
Abstrak
Orientasi
Krisis
Reaksi
Koda
C. Ciri-ciri teks anekdot
Supaya kamu dapat membedakannya dengan teks lainnya, dan lebih mengerti tentang pengertian teks anekdot seperti apa, coba pahami juga ciri-ciri teks anekdot berikut ini:Berupa teks yang mendekati perumpamaan
Menampilkan tokoh-tokoh atau figure yang dekat dengan kehidupan sehari-hari atau juga orang penting
Memiliki sifat humoris, lucu, menggelitik, dan berbau lelucon tapi menyindir
Terselip kritikan atau tujuan
berikut adalah contoh Teks Anekdot
Menjaga Kebersihan Lingkungan
Pada suatu ketika, di sebuah
kerajaan yang kehidupannya makmur dan sejahtera. Hiduplah seorang putra raja, dia
bernama Wira Satya. Suatu hari. Dia bertemu dengan salah seorang Deputi
kerajaan, yaitu Jatmo. Beliau adalah Kepala Deputi kerajaan bagian kebersihan.
Den Wira bertemu Jatmo ketika sedang mengawasi para pekerja yang sedang
membersihkan saluran air di bagian selatan kerajaan.
Wira :
“Selamat pagi paman...” sapa Wira kepada kepala Deputi Kebersihan
Jatmo :
“Selamat pagi Den, sedang apa Den? Kok bisa disini?” tanya Jatmo
Wira :
”Sedang jalan-jalan paman. Eh, Paman sedang melakukan apa? Kok ada orang main
lumpur di tepi sungai?”
Jatmo :
“Hehehe, Bukan main lumpur Den, tapi mereka sedang saya suruh untuk menanam
pohon bakau di sungai ini. Agar banjir tidak terjadi di lingkungan kerajaan ini.”
Wira :
“Kok bisa begitu Paman?” tanya Wira dengan wajah yang polos dan kata-kata yang
apa adanya.
Jatmo :
”Begini Den.” jawab Kepala Deputi dengan suara yang agak dibesarkan dan sedikit
membusungkan dada. “Jadi, ketika hujan terus turun, sedangkan tidak ada
tumbuhan yang menyerap air hujan. Maka, akan menimbulkan banjir. Karena
banyaknya air yang turun.” sambung Jatmo
Wira :
“Oh. Lalu, kenapa Paman tidak ikut menanamnya? Bukankah paman harus memberi
contoh buat anak buah Paman?”
Jatmo :
“Ha-ha-ha, hal semacam itu tidak perlu saya lakukan Den, kan saya Kepala Deputi
Kebersihan, jadi saya cukup disini. Duduk, makan camilan, kemudian mengarahkan
kerja mereka. Kalau ada yang salah nanti saya marahi mereka.” jawab Kepala
Deputi dengan nada menyombongkan diri.
Mendengar
jawaban Paman Jatmo tersebut, Wira hanya tersenyum, kemudian berlari menuju
sungai dan berjalan-jalan di sekitar bibir sungai.
Wira :
“Paman Jatmo, ada apa itu ya? Kok ada benda berwarna kuning berkilau di dalam
sungai?” teriak Wira kepada Kepala Deputi Kebersihan. “Kaya mas-mas-mas...”
Jatmo :
“Ada apa Den? Emas?” tanya Jatmo dengan keheranan, sembari berlari.
Wira :
“Itu lho paman, coba deh paman ambil.” Menunjukkan benda yang ada di dalam sungai
kepada Jatmo.
Jatmo :
“Beneran emas ya Den?” bergegas melompat ke dalam sungai yang airnya kotor.
Wira :
“Bagaimana Paman? Apakah itu Emas?” tanya Wira dengan memasang wajah yang
polos.
Jatmo :
“Aduh...Sialan, ini tai Den....” jawab Jatmo “Dasar bocah nakal.”
Wira :
“Hahaha, seharusnya Paman ikut membantu membersihkan, menjaga, dan melestarikan
lingkungan, bukan hanya melihat saja.” Tertawa terbahak-bahak.


0 komentar: